• Jelajahi

    Copyright © NUSANTARA NEWS | Berita Nusantara News Hari Ini
    Nusantara News

    Follow us on

    Sepiring Nasi, Sejuta Makna: Nganyaran Pare Anyar Satukan Warga dalam Rasa Syukur di Kampung Adat Cengkuk

    NUSANTARA NEWS
    Selasa, 09 Juni 2026, 21.04.00 WIB Last Updated 2026-06-09T14:04:57Z

     


    NUSANTARANEWS | SUKABUMI – Aroma nasi baru yang mengepul dari dapur-dapur warga Kampung Cengkuk, Desa Margalaksana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, menghadirkan suasana yang berbeda pada Selasa (9/6/2026). Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus merambah pelosok desa, masyarakat adat yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai Kasepuhan Gelar Alam kembali meneguhkan identitas mereka melalui tradisi sakral Nganyaran Pare Anyar.


    Tradisi yang hanya digelar setahun sekali setelah panen perdana itu bukan sekadar acara makan bersama. Di balik setiap butir nasi yang tersaji, tersimpan rasa syukur mendalam atas berkah hasil bumi, penghormatan kepada leluhur, serta pesan kuat tentang pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.


    Sejak pagi hari, aktivitas warga terlihat begitu hidup. Suara alu dan lesung yang bertalu-talu memecah keheningan kampung. Para ibu sibuk menyiapkan hidangan, sementara kaum pria membantu berbagai kebutuhan persiapan. Semua berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan gotong royong.


    Tokoh masyarakat sekaligus Kepala Dusun Cengkuk, Ruhyat, menjelaskan bahwa secara adat pelaksanaan Nganyaran Pare Anyar berpusat di rumah Pupuhu atau Kasepuhan. Namun seiring perkembangan zaman, tradisi tersebut juga dilaksanakan di rumah-rumah warga yang telah selesai melakukan panen sebagai bentuk kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi.


    "Secara adat memang pusatnya di rumah Kasepuhan. Namun sekarang warga yang sudah panen juga menggelarnya di rumah masing-masing. Tujuannya agar kebahagiaan dan rezeki hasil panen bisa dirasakan bersama," ungkap Ruhyat.


    Di atas hamparan tikar sederhana, tersaji nasi putih pulen dari padi baru hasil panen pertama. Berbagai lauk seperti daging ternak dan ikan hasil tangkapan sungai melengkapi hidangan tersebut. Bagi masyarakat adat, setiap sajian memiliki makna tersendiri, yakni simbol rasa syukur atas limpahan rezeki yang diberikan alam kepada mereka.


    Yang membuat tradisi ini begitu istimewa adalah semangat berbagi yang menjadi ruh utama pelaksanaannya. Setelah nasi dan lauk matang, makanan tersebut tidak hanya dinikmati keluarga yang menggelar acara, tetapi juga dibagikan kepada tetangga di sekitar kampung tanpa memandang status maupun kedekatan keluarga.


    "Mulai dari proses menumbuk padi sampai makan bersama, semuanya dilakukan secara gotong royong. Tetangga harus ikut merasakan hasil panen pertama. Itulah makna kebersamaan yang kami jaga sampai sekarang," tutur Ruhyat.


    Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masyarakat Kampung Cengkuk tetap berdiri teguh menjaga tradisi warisan leluhur. Bagi mereka, Nganyaran Pare Anyar bukan sekadar budaya, melainkan bagian dari jati diri yang tidak boleh hilang oleh perkembangan teknologi maupun modernisasi.


    "Bagi kami, adat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak lahir. Zaman boleh berubah, tetapi tradisi ini akan terus kami pertahankan. Meninggalkan adat berarti melupakan jati diri dan penghormatan kepada leluhur," tegas Ruhyat.


    Tradisi Nganyaran Pare Anyar menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, dan penghormatan terhadap alam masih hidup dan tumbuh kuat di Kampung Cengkuk. Di saat banyak budaya lokal mulai terkikis zaman, masyarakat adat Kasepuhan Gelar Alam justru menunjukkan bahwa warisan leluhur dapat terus lestari, diwariskan dari generasi ke generasi, dan menjadi perekat yang menjaga kebersamaan warga hingga hari ini.


    (Ismet)

    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERBARU