NUSANTARANEWS | SUKABUMI – Persoalan sampah masih menjadi perhatian dalam upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga dinilai berpotensi memicu pencemaran, menghambat aliran air, hingga meningkatkan risiko banjir.
Menurut keterangan Efri Darlin M Dachi pada Sabtu (10/10/2026), pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Upaya menjaga lingkungan tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah maupun petugas kebersihan, tetapi harus didukung perubahan perilaku masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyoroti kebiasaan membuang sampah sembarangan yang masih menjadi salah satu persoalan dalam menjaga kebersihan lingkungan. Sampah plastik, sisa makanan, dan limbah rumah tangga yang dibuang ke jalanan, selokan, maupun sungai dapat menimbulkan dampak negatif apabila tidak ditangani dengan baik.
Selain mengotori lingkungan, penumpukan sampah di saluran air berpotensi menghambat aliran air, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi. Karena itu, kesadaran untuk membuang dan mengelola sampah secara tepat perlu terus ditingkatkan.
Menurutnya, pemahaman mengenai pemilahan sampah juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan masyarakat. Sampah organik, seperti sisa makanan dan dedaunan, dapat diolah menjadi kompos. Sementara itu, sampah anorganik tertentu, seperti plastik dan kertas, dapat dipilah untuk dimanfaatkan kembali atau didaur ulang.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi persoalan sampah adalah menerapkan prinsip 3R, yakni Reduce atau mengurangi penggunaan barang yang berpotensi menjadi sampah, Reuse atau menggunakan kembali barang yang masih layak, serta Recycle atau mendaur ulang sampah menjadi produk yang bermanfaat.
Penerapan prinsip tersebut dapat dimulai dari rumah melalui kebiasaan sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memisahkan sampah berdasarkan jenisnya, serta tidak membuang sampah ke sungai dan saluran drainase.
Di samping itu, edukasi lingkungan, penyediaan tempat sampah yang memadai, dan kegiatan kerja bakti perlu terus didorong untuk membangun kepedulian bersama. Pendidikan mengenai kebersihan juga penting ditanamkan sejak dini melalui keluarga dan sekolah agar perilaku menjaga lingkungan menjadi kebiasaan yang berkelanjutan.
Efri berharap, meningkatnya kepedulian dan keterlibatan masyarakat dapat membantu mengurangi persoalan sampah sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan nyaman.
Menjaga kelestarian lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Melalui perubahan perilaku yang dimulai dari hal sederhana dan dilakukan secara konsisten, masyarakat dapat berkontribusi dalam mengurangi pencemaran serta menjaga kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.
(Ismet)


