NUSANTARANEWS | SUMEDANG – Pemerintah Kabupaten Sumedang mencatat, peredaran uang dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah ini mencapai angka fantastis, yakni sekitar Rp 137,9 miliar per bulan. Angka tersebut dinilai sangat besar dan mampu memberikan dampak signifikan bagi penggerak roda ekonomi daerah.
Saat ini, pelaksanaan program tersebut telah didukung oleh 164 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum. Rinciannya terdiri dari 136 SPPG aglomerasi dan 28 SPPG di daerah terpencil.
“Peredaran uang dari program MBG di Sumedang mencapai Rp 137 miliar per bulannya. Ini luar biasa dan sangat menggerakkan ekonomi di Sumedang,” ujar Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir.
Namun, di balik potensi besar tersebut, Bupati Dony menyoroti pentingnya kemandirian pangan. Saat ini, ia mengakui bahwa pasokan bahan baku masih banyak mengandalkan pasar tradisional, seperti Pasar Caringin, yang berisiko memicu inflasi harga pangan.
“Mengambil barangnya masih dari Pasar Caringin. Sebenarnya ada rantai pasok untuk MBG, jangan hanya ke Caringin saja belanjanya. Kami sudah beberapa kali rapat dengan Dinas Pertanian dan kelompok tani agar bisa memenuhi pasokan untuk MBG. Pemerintah harus hadir di sini,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bupati mengaku bahwa kuantitas dan kualitas produk pangan lokal untuk menyuplai program tersebut belum sepenuhnya optimal. Kontinuitas produksi pertanian lokal masih perlu ditingkatkan.
“Kami terus berupaya supaya kebutuhan MBG nantinya bisa dipasok sepenuhnya dari petani yang ada di Sumedang,” tambahnya.
Upaya ini sangat masuk akal mengingat Sumedang memiliki potensi agraris yang sangat kuat. Wilayah seluas 155.872 hektare tersebut, memiliki lahan pertanian seluas 31.544 hektare atau sekitar 20,24%. Selain itu, sektor pertanian juga menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, yaitu mencapai 134.128 orang atau 22,11% dari total penduduk bekerja.
Hingga saat ini, penyerapan program MBG di Sumedang sudah mencapai 85 persen. Total penerima manfaat mencapai 355.906 orang yang mencakup anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, hingga balita.
“Kami percepat saja karena akan lebih banyak penerima manfaatnya. Harapannya dengan program ini, stunting bisa berkurang dan kebutuhan gizi masyarakat terpenuhi dengan baik,” pungkas Bupati Dony.
(Endi Kusnadi)


