NUSANTARANEWS | SUKABUMI – Pemerintah Desa Gunung Karamat, Kabupaten Sukabumi, terus memperkuat pengembangan komoditas kopi sebagai unggulan ekonomi desa. Melalui Program Sejuta Kopi yang telah berjalan selama enam tahun, desa tersebut kini mulai menunjukkan hasil dengan ratusan ribu tanaman kopi yang telah dibudidayakan dan sebagian di antaranya memasuki masa panen.
Kepala Desa Gunung Kramat, Jaro Subaeta, mengatakan pengembangan kopi merupakan langkah strategis yang didasarkan pada potensi alam, kultur masyarakat, serta sejarah perkebunan di wilayahnya.
Menurutnya, sejak masa kolonial Belanda, kawasan Gunung Kramat telah dikenal memiliki aktivitas perkebunan, mulai dari teh, karet hingga kopi. Jejak sejarah tersebut kemudian menjadi salah satu landasan pemerintah desa dalam menentukan arah pembangunan.
“Setiap desa memiliki program skala prioritas masing-masing. Kami menyesuaikannya dengan kultur dan potensi wilayah. Kalau melihat sejarah, Gunung Kramat dahulu merupakan kawasan perkebunan peninggalan Belanda yang bergerak di bidang teh, karet, dan kopi,” ungkap Subaeta.
Berangkat dari potensi tersebut, Pemerintah Desa Gunung Karamat menggulirkan Program Sejuta Kopi. Dalam kurun waktu enam tahun, program itu telah berhasil menanam sekitar 467.000 pohon kopi dan kini mulai memberikan hasil bagi para petani.
Meski demikian, produksi kopi yang dihasilkan saat ini masih berada di kisaran 50 ton per tahun. Angka tersebut dinilai masih berpeluang meningkat, mengingat potensi lahan perkebunan di Gunung Kramat mencapai sekitar 800 hektare.
Seiring meningkatnya hasil produksi, Pemerintah Desa Gunung Karamat juga mulai memperluas jaringan pemasaran. Produk kopi lokal tersebut telah menjangkau sejumlah daerah, di antaranya wilayah Kabupaten Sukabumi, Palabuhanratu, Bogor, hingga Bandung.
Bahkan, peluang pemasaran ke pasar internasional mulai terbuka melalui komitmen kerja sama dengan Yunani. Meski volumenya belum besar, pengiriman kopi ke negara tersebut ditargetkan mencapai sekitar satu ton dalam setahun.
"Kami sudah mempunyai komitmen dengan Yunani untuk pemasaran ekspor. Memang masih terbatas, tetapi minimal dalam satu tahun bisa mengirim sekitar satu ton," jelasnya.
Untuk mendukung peningkatan kualitas produk, pemerintah desa juga mulai memperkuat fasilitas pengolahan hasil perkebunan.
Dukungan dari Dinas Pertanian berupa sejumlah peralatan pengolahan kopi diharapkan dapat membantu petani dan pelaku usaha dalam menghasilkan produk yang lebih berkualitas.
Peralatan tersebut meliputi sarana penjemuran, pemecah atau pengupas biji kopi, mesin roasting, alat pengemasan, hingga perangkat pemilahan biji berdasarkan kualitas atau grade satu sampai lima.
Dengan dukungan tersebut, pengembangan kopi tidak lagi hanya berfokus pada penanaman dan panen, tetapi juga diarahkan pada peningkatan nilai tambah melalui pengolahan pascapanen.
Selain memperkuat sektor pertanian dan perdagangan, Pemerintah Desa Gunung Karamat memiliki rencana mengembangkan kawasan perkebunan kopi sebagai destinasi wisata berbasis potensi lokal.
Konsep yang tengah disiapkan adalah menghadirkan kafe di tengah perkebunan kopi. Melalui konsep tersebut, pengunjung nantinya dapat menikmati sajian kopi sekaligus merasakan suasana perkebunan secara langsung.
Gagasan ini juga diharapkan dapat mendukung pengembangan pariwisata Kabupaten Sukabumi, khususnya kawasan yang berkaitan dengan aktivitas budaya dan geopark.
Jaro menyebutkan, Gunung Karamat memiliki potensi untuk menjadi salah satu wilayah penunjang pengembangan wisata di kawasan sekitarnya.
"Karena kopi menjadi program skala prioritas desa, harapan kami ke depan bisa menghadirkan kafe-kafe di tengah kebun kopi. Jadi, selain menjadi kawasan produksi, perkebunan juga bisa memberikan pengalaman wisata bagi masyarakat," tuturnya.
Rencana pengembangan wisata tersebut telah disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan. Pemerintah desa juga telah mengusulkannya kepada anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari daerah pemilihan setempat, Leni.
Pihak desa berharap usulan tersebut mendapat dukungan sehingga pengembangan wisata kebun kopi dapat direalisasikan dan menjadi salah satu program prioritas pada 2027.
Di sektor pengembangan produk, Pemerintah Desa Gunung Karamat juga menargetkan kehadiran kopi lokal dalam kemasan sachet.
Produk tersebut dinilai memiliki peluang pasar yang cukup besar karena lebih praktis dan mudah dijangkau konsumen. Namun, untuk merealisasikannya, diperlukan tahapan penelitian dan persiapan produksi yang matang.
Jaro menjelaskan, dari sisi administrasi dan legalitas, produk kopi Gunung Karamat telah mengantongi sejumlah persyaratan perizinan, termasuk sertifikasi halal.
Kendati demikian, kebutuhan biaya untuk pengadaan bahan kemasan masih menjadi salah satu kendala yang harus diatasi.
Menurutnya, untuk pemesanan plastik kemasan dalam jumlah awal saja dibutuhkan anggaran sedikitnya Rp50 juta.
"Untuk produk sachet memang menjadi target kami sejak awal. Tetapi harus melalui penelitian yang serius. Persiapan plastik kemasannya saja membutuhkan biaya sekitar Rp50 juta, sehingga saat ini masih menjadi kendala pembiayaan. Mudah-mudahan ke depan bisa segera terwujud," katanya.
Lebih jauh, pengembangan komoditas kopi di Gunung Karamat tidak sekadar mengejar peningkatan jumlah produksi dan perluasan pasar. Pemerintah desa juga ingin membangun identitas produk kopi yang benar-benar berasal dari hasil perkebunan masyarakat setempat.
Jaro menegaskan, kopi Gunung Karamat harus memiliki ciri khas dan kualitas tersendiri, sehingga mampu bersaing dengan produk kopi dari daerah lain.
Pihaknya tidak ingin merek kopi Gunung Kramat hanya menjadi identitas kemasan, sementara bahan bakunya berasal dari luar wilayah.
"Kami ingin kopi Gunung Karamat benar-benar berasal dari wilayah sendiri. Jangan sampai produk yang menggunakan nama Gunung Kramat justru memakai bahan kopi dari luar daerah," tegasnya.
Karena itu, pemerintah desa berkomitmen membangun ekosistem usaha kopi secara menyeluruh, mulai dari budidaya, peningkatan hasil panen, pengolahan, pengemasan, pemasaran hingga pengembangan wisata perkebunan.
Dengan dukungan potensi lahan sekitar 800 hektare dan jumlah tanaman yang telah mencapai kurang lebih 467.000 pohon, Desa Gunung Karamat optimistis kopi dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat.
Program Sejuta Kopi diharapkan mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat daya tarik wisata desa.
Ke depan, Gunung Karamat tidak hanya ingin dikenal sebagai daerah penghasil kopi, tetapi juga sebagai kawasan yang memiliki produk unggulan, identitas lokal, dan destinasi wisata perkebunan yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Kabupaten Sukabumi.
(Ismet)


