NUSANTARANEWS | SUKABUMI – Monitoring dan evaluasi (monev) pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dilaksanakan di Desa Margalaksana, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, pada Rabu (1/4/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pengawasan penggunaan anggaran ketahanan pangan yang bersumber dari dana desa.
Sekretaris Kecamatan Cikakak, Asep Hudri, menjelaskan bahwa monev yang dilakukan berfokus pada pengelolaan keuangan BUMDes, khususnya alokasi 20 persen dana desa untuk program ketahanan pangan.
"Monitoring hari ini merupakan hari kedua dari rangkaian evaluasi di empat desa, dan saat ini dilaksanakan di Desa Margalaksana. Secara umum, pengelolaan sudah berjalan, dan untuk pertanggungjawaban tinggal melengkapi beberapa kekurangan," ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan dana ketahanan pangan tersebut mulai direalisasikan sejak November 2025. Pemerintah kecamatan juga akan terus melakukan pengawasan secara berkelanjutan dengan memberikan rekomendasi perbaikan yang harus ditindaklanjuti oleh pihak desa.
"Terkait pengawasan, kami memberikan catatan dan rekomendasi. Ke depan, kami akan datang kembali secara kontinyu untuk memastikan pengelolaan berjalan sesuai ketentuan," tambahnya.
Di Desa Margalaksana, program BUMDes difokuskan pada distribusi bahan kebutuhan pokok, seperti telur dan minyak goreng. Produk tersebut didistribusikan kepada agen-agen yang ada di wilayah desa.
Dari total sembilan desa di Kecamatan Cikakak, sebagian besar telah menjalankan program tersebut. Sementara itu, Desa Cikakak masih dalam tahap penyimpanan dana di rekening kas desa (RKD) dan dijadwalkan akan segera dilakukan monev pada waktu mendatang.
Sementara itu, Ketua BUMDes Desa Margalaksana, Amel, menyampaikan bahwa anggaran ketahanan pangan telah direalisasikan untuk usaha distribusi telur dan minyak goreng.
"Alhamdulillah, anggaran sekitar Rp200 juta dari dana desa untuk ketahanan pangan sudah kami realisasikan. Usaha ini sudah berjalan sejak Desember 2025," ungkapnya.
Namun demikian, pihaknya mengakui masih terdapat kendala, terutama dalam persaingan harga dengan produk di pasaran.
"Kendala utama adalah persaingan harga. Kami harus bersaing dengan harga pasar, namun sejauh ini kegiatan berjalan lancar," jelasnya.
Ia berharap ke depan program tersebut dapat terus berkembang, meningkatkan pendapatan desa, serta memberikan manfaat bagi masyarakat, khususnya dalam menjaga stabilitas kebutuhan pangan di Desa Margalaksana.
(Ismet)




