• Jelajahi

    Copyright © NUSANTARA NEWS | Berita Nusantara News Hari Ini
    Nusantara News

    Follow us on

    Sungai Buniwangi Darurat Sampah! Kang Davit dan Efri Darlin Desak Pemerintah Bertindak, Banjir dan Penyakit Mengintai Warga

    NUSANTARA NEWS
    Selasa, 11 Agustus 2026, 06.50.00 WIB Last Updated 2026-08-11T00:13:51Z

     


    NUSANTARANEWS | SUKABUMI – Sungai Ci Buniwangi yang berada di wilayah Desa Buniwangi, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, kini menghadapi kondisi memprihatinkan. Aliran sungai yang semestinya menjadi bagian penting dari ekosistem dan lingkungan kehidupan masyarakat justru terlihat dipenuhi tumpukan sampah.


    Pemandangan tersebut menjadi alarm serius bagi masyarakat. Sampah rumah tangga yang menumpuk di sejumlah titik sungai tidak hanya mengganggu keindahan lingkungan, tetapi juga berpotensi menyumbat aliran air, menimbulkan bau tidak sedap, serta menjadi sumber berbagai penyakit.


    Padahal, sungai yang berada di tengah kawasan permukiman memiliki fungsi penting sebagai bagian dari sistem lingkungan. Kebersihan sungai bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran dan kepedulian seluruh masyarakat.


    Kondisi Sungai Ci Buniwangi tersebut mendapat perhatian dari sejumlah tokoh masyarakat dan pemuda yang selama ini dikenal peduli terhadap persoalan lingkungan, di antaranya Kang Davit serta pengacara Efri Darlin M. Dachi.


    Efri Darlin M. Dachi menegaskan bahwa kebiasaan membuang sampah ke sungai merupakan tindakan yang keliru dan dapat memberikan dampak panjang terhadap lingkungan maupun masyarakat.


    "Membuang sampah ke kali adalah tindakan yang salah dan merusak lingkungan. Hal ini sering terjadi karena kurangnya kesadaran warga serta terbatasnya tempat sampah atau layanan angkut sampah. Masalah ini harus segera diatasi dengan kerja sama antara warga dan pemerintah," ujar Efri.


    Menurutnya, persoalan sampah di sungai tidak boleh dianggap sebagai masalah kecil. Jika dibiarkan, tumpukan sampah dapat menyumbat aliran air dan meningkatkan risiko terjadinya banjir, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi.


    Selain itu, air sungai yang tercemar sampah juga berpotensi menjadi tempat berkembangnya kuman dan berbagai sumber penyakit. Kondisi tersebut diperparah dengan munculnya bau busuk yang dapat mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.


    "Kalau sampah terus dibiarkan menumpuk, dampaknya bukan hanya sungai yang kotor. Masyarakat di sekitar sungai juga yang akan menerima akibatnya," tegasnya.


    Ia menilai, persoalan tersebut membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar imbauan. Pemerintah bersama masyarakat perlu menyediakan fasilitas pembuangan sampah dan memastikan adanya layanan pengangkutan sampah secara teratur.


    Di sisi lain, masyarakat juga perlu diberikan edukasi mengenai pentingnya memilah sampah rumah tangga, mengurangi sampah yang dibuang sembarangan, serta memanfaatkan kembali sampah yang masih memiliki nilai guna.


    Efri juga mendorong adanya kegiatan gotong royong secara rutin untuk membersihkan aliran Sungai Buniwangi.


    "Gotong royong harus kembali digalakkan. Sungai ini milik kita bersama, sehingga menjaganya juga harus menjadi tanggung jawab bersama," katanya.


    Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus pemuda, Kang Davit, turut menyayangkan kondisi Sungai Buniwangi yang dipenuhi sampah.


    Menurut Davit, sungai yang berada di lingkungan masyarakat seharusnya dijaga kebersihannya karena keberadaannya memiliki hubungan langsung dengan kehidupan warga.


    "Jangan sampai sungai baru diperhatikan ketika sudah terjadi banjir atau menimbulkan masalah. Kita harus mencegah sebelum persoalan menjadi lebih besar," ujar Davit.


    Ia mengajak masyarakat untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah. Menurutnya, kebersihan lingkungan harus dimulai dari kesadaran setiap keluarga.


    Davit juga berharap pemerintah desa, pemerintah kecamatan, serta instansi terkait dapat turun langsung melihat kondisi Sungai Buniwangi dan mencari solusi bersama masyarakat.


    "Jangan hanya membersihkan ketika sampah sudah menumpuk. Harus ada sistem yang jelas, mulai dari tempat pembuangan, pengangkutan sampah, edukasi kepada masyarakat, sampai pengawasan," katanya.


    Ia menambahkan, apabila fasilitas pengelolaan sampah sudah tersedia namun masih ada warga yang sengaja membuang sampah ke sungai, maka diperlukan langkah tegas sesuai aturan yang berlaku.


    "Kalau sudah diberikan fasilitas dan edukasi tetapi masih ada yang membuang sampah ke sungai, tentu harus ada pengawasan dan sanksi agar memberikan efek jera," tegasnya.


    Kondisi Sungai Ci Buniwangi kini menjadi pekerjaan rumah bersama. Sungai yang seharusnya menjadi bagian dari lingkungan yang sehat justru terancam berubah menjadi tempat penampungan sampah.


    Karena itu, penanganan persoalan tersebut membutuhkan sinergi nyata antara pemerintah dan masyarakat. Mulai dari penyediaan sarana persampahan, pengangkutan secara rutin, edukasi pemilahan sampah, kegiatan gotong royong, hingga pengawasan terhadap perilaku membuang sampah sembarangan.


    Sebab, membiarkan sampah terus menumpuk di sungai sama artinya dengan membiarkan ancaman terhadap lingkungan dan keselamatan masyarakat tumbuh di depan mata.


    Kini pertanyaannya bukan lagi siapa yang harus bertanggung jawab, tetapi kapan langkah nyata untuk menyelamatkan Sungai Buniwangi akan dilakukan?


    (Ismet) 

    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERBARU