NUSANTARANEWS | SUMEDANG – Bagi sebagian orang, bertambahnya usia adalah soal perayaan. Namun bagi H. Ayi Subhan Hafas, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Sumedang, usia ke-47 yang jatuh pada Sabtu (31/1/2026) menjadi sebuah "titik hening". Sebuah momentum untuk bercermin, menundukkan ego, dan menata ulang niat dalam memimpin amanah umat.
Di usia yang sarat kedewasaan ini, Ayi memilih menjadikan hari kelahirannya sebagai ruang refleksi diri. Baginya, memimpin lembaga zakat bukan sekadar soal capaian angka atau jabatan, melainkan tentang kejujuran nurani: sejauh mana zakat benar-benar mengubah hidup masyarakat.
“Di usia 47 tahun ini, saya semakin sadar bahwa hidup bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa lurus arah yang kita tuju. Ego harus ditundukkan, syukur diperbanyak, dan niat harus terus dijaga agar setiap ikhtiar bernilai ibadah,” ungkap Ayi dengan nada rendah hati.
Integritas di Tengah Dinamika
Perjalanan memimpin lembaga umat tentu tidak luput dari tantangan, kritik, dan dinamika sosial. Namun, Ayi memandang hal tersebut sebagai guru terbaik yang mengajarkan kesabaran dan keikhlasan. Ia menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh defensif, melainkan harus terbuka terhadap evaluasi.
“Jabatan hanyalah titipan sementara, namun karakter dan amal kebaikan adalah bekal yang akan kita bawa pulang. Di usia ini, saya lebih banyak bercermin tentang apa yang sudah diberikan dan apa yang masih harus diperbaiki,” tuturnya.
Zakat Sebagai Solusi Nyata, Bukan Sekadar Angka
Dalam visi kelembagaan, Ayi berkomitmen membawa BAZNAS Sumedang menjadi lembaga yang lebih inovatif, transparan, dan akuntabel. Ia menekankan bahwa keberhasilan zakat tidak boleh hanya diukur dari tersalurkannya dana, tetapi dari dampak jangka panjangnya.
“Kita ingin BAZNAS hadir sebagai solusi nyata. Zakat harus mendorong kemandirian mustahik (penerima zakat) hingga nantinya mereka mampu bertransformasi menjadi muzaki (pemberi zakat) baru,” tegasnya. Menurutnya, profesionalisme adalah kunci utama untuk menjaga kepercayaan publik.
Esensi Kerja Kolektif
Menutup refleksinya, Ayi menyadari bahwa keberhasilan BAZNAS Sumedang bukanlah kerja individu. Ia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para komisioner, amil, relawan, pemerintah daerah, serta seluruh masyarakat yang telah menitipkan kepercayaannya.
“Keberhasilan bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi seberapa tulus kita bekerja bersama. Semoga Allah SWT senantiasa menjaga langkah kita agar tetap amanah dan istiqamah,” pungkasnya.
Dengan semangat baru di usia 47 tahun, H. Ayi Subhan Hafas optimistis dapat terus membawa BAZNAS Kabupaten Sumedang menjadi pilar utama dalam penguatan ekonomi dan kesejahteraan umat di Sumedang.
(Endi Kusnadi)


