• Jelajahi

    Copyright © NUSANTARA NEWS | Berita Nusantara News Hari Ini
    Nusantara News

    Follow us on

    Dibalik Viralnya Aksi Mahasiswa UGM: Pelajaran Komunikasi Politik dan Demokrasi

    NUSANTARA NEWS
    Kamis, 18 Juni 2026, 07.43.00 WIB Last Updated 2026-06-18T00:43:26Z

     


    NUSANTARANEWS | SUMEDANG - Fenomena viral aksi mahasiswa yang menginterupsi jalannya diskusi bersama sejumlah pejabat negara di Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi perhatian publik nasional. Peristiwa tersebut memunculkan berbagai respons, mulai dari dukungan hingga kritik, sekaligus membuka ruang kajian dalam perspektif ilmu komunikasi mengenai bagaimana pesan protes disampaikan kepada publik.


    Menurut Sonia Sugian, S.H., M.H., M.Tr.IP., Anggota DPRD Kabupaten Sumedang sekaligus mahasiswa Program Doktor Universitas Padjadjaran*, peristiwa tersebut dapat dianalisis melalui *Teori Pelanggaran Harapan (Expectation Violations Theory)*. Dalam teori ini, tindakan yang keluar dari norma komunikasi formal akan menarik perhatian masyarakat dan memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Ketika mahasiswa memilih menginterupsi forum resmi, tindakan tersebut menjadi simbol bahwa mereka menilai mekanisme komunikasi yang selama ini berjalan belum mampu menjawab aspirasi publik.


    Sonia menjelaskan bahwa dalam perspektif komunikasi politik, sebuah aksi yang viral tidak hanya diukur dari besar kecilnya kerumunan, tetapi juga dari kemampuan aksi tersebut menciptakan agenda pembicaraan di ruang publik. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin kritis terhadap komunikasi pemerintah dan menginginkan ruang dialog yang lebih terbuka, setara, dan partisipatif.


    Selain itu, peristiwa tersebut juga dapat dikaji melalui Teori Dramaturgi Erving Goffman. Dalam teori ini, kehidupan sosial diibaratkan sebagai sebuah panggung, di mana terdapat front stage atau penampilan resmi dan back stage yang menunjukkan realitas sesungguhnya. Ketika forum diskusi yang dirancang sebagai ruang dialog justru diwarnai aksi protes, publik melihat adanya perbedaan antara narasi komunikasi formal dengan kondisi sosial yang dirasakan sebagian masyarakat.


    Menurut Sonia, komunikasi yang efektif bukan hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga membangun kepercayaan. Apabila kepercayaan publik mulai menurun, maka pesan-pesan resmi pemerintah akan lebih mudah dipertanyakan. Karena itu, dialog yang terbuka dan mendengarkan aspirasi secara langsung menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas demokrasi dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat.


    Di sisi lain, aksi mahasiswa juga menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki kepedulian terhadap persoalan kebangsaan. Dalam negara demokrasi, penyampaian kritik merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi. Namun demikian, penyampaian pendapat tetap perlu dilakukan dengan mengedepankan etika komunikasi, saling menghormati, serta menjaga ketertiban agar substansi pesan dapat diterima secara lebih konstruktif.


    Melalui sudut pandang ilmu komunikasi, viralnya aksi mahasiswa UGM menjadi pelajaran bahwa komunikasi publik tidak hanya bergantung pada siapa yang berbicara, tetapi juga pada sejauh mana pesan mampu membangun kepercayaan dan menghadirkan dialog yang bermakna. Peristiwa ini menjadi refleksi bagi seluruh pihak bahwa komunikasi yang sehat, terbuka, dan berlandaskan rasa saling menghargai merupakan fondasi penting dalam kehidupan demokrasi.


    (Endi Kusnadi)

    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERBARU