NUSANTARANEWS | BANDUNG – Perguruan Pencak Silat (PPS) Pager Kancana, salah satu perguruan tertua di Tanah Sunda yang berdiri sejak 1930, akan menggelar momen bersejarah minggu ini. Rd. H. Piar Pratama, S.SH., cucu dari Guru Besar ke-III, secara resmi akan dinobatkan sebagai Putra Mahkota sekaligus Ketua Umum Pengurus Besar PPS Pager Kancana Indonesia.
Rencana penobatan Aden Anom Piar tersebut dijadwalkan berlangsung pada Minggu (28/6/2026) di Bandung. Keputusan ini merupakan hasil musyawarah mufakat antara Dewan Adat, keluarga besar pendiri, dan sesepuh perguruan, termasuk Rd. Cucun Samsudin, S.H., Rd. Edi Rosadi, H. Dedi Supardi, dan Asyikin Dodi Sugandi. Mereka sepakat bahwa sosok muda seperti Piar Pratama dinilai mampu membawa angin segar, perubahan positif, serta kemajuan dalam aspek organisasi, pembinaan prestasi, dan pelestarian seni tradisi pencak silat.
Pager Kancana bukan sekadar perguruan bela diri, melainkan bagian dari ekosistem budaya yang dikenal dengan "Lima Kancana". Bersama empat perguruan lainnya Simpay Kancana, Paku Kancana, Sekar Kancana, dan Payung Kancana nama "Kancana" (emas/kuning) melambangkan persahabatan dan ikatan kekeluargaan yang kuat. Masing-masing nama memiliki filosofi mendalam:
1. Pager: Benteng atau pelindung.
2. Paku: Penguat.
3. Simpay: Pengikat.
4. Sekar: Pengembangan atau publikasi.
5. Payung: Pembimbing atau penasihat.
Perpaduan ilmu dari berbagai aliran seperti Cimande, Cikalong, Sera, Syahbandar, Madi, Ciwaringin, dan Buang Kelid menjadi kekuatan utama yang membedakan Pager Kancana dengan perguruan lain.
Secara resmi, PPS Pager Kancana diresmikan pada 12 Mei 1933 di Cigereleng, Kabupaten Bandung. Rd. Bardjah dipercaya sebagai penerima pandel sekaligus Guru Besar pertama. Selain mengajarkan bela diri, beliau aktif menggunakan keilmuannya untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Prestasi gemilang pun ditorehkan, termasuk medali emas PON I Solo (1948) dan PON II Medan (1951).
Setelah Rd. Bardjah wafat pada 15 Juli 1974, tongkat kepemimpinan diteruskan oleh putranya, Alm. Odid Soepardi Bardjah, pada 2 Februari 1962 dengan dukungan kakak dan adiknya, Rd. Lala Soetrisna Bardjah dan Rd. Dadang Djakaria Bardjah. Tradisi juara terus berlanjut ketika Alm. Odid berhasil meraih emas PON V Bandung (1961) serta berbagai penghargaan di ajang ORPESI.
Di tengah gerusan zaman, pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya bangsa menjadi tantangan tersendiri. Penunjukan Rd. H. Piar Pratama sebagai Ketua Umum diharapkan dapat menjembatani nilai-nilai tradisional dengan manajemen organisasi modern.
"Semangat juang dan mental juara telah tertanam kuat sejak masa Guru Besar pertama. Kami yakin, dengan kepemimpinan baru, Pager Kancana akan terus berkembang dan berpartisipasi aktif di kejuaraan regional, nasional, hingga internasional," ujar salah satu sesepuh perguruan.
Dengan dinobatkannya Piar Pratama, keluarga besar Pager Kancana optimis bahwa perguruan ini tidak hanya akan menjaga kelestarian seni tradisi, tetapi juga mencetak atlet-atlet berprestasi yang membanggakan nama Indonesia di kancah dunia.
(Hans)



