• Jelajahi

    Copyright © NUSANTARA NEWS | Berita Nusantara News Hari Ini
    Nusantara News

    Follow us on

    Seren Taun ke-447 Kasepuhan Sinar Resmi: Doa Leluhur Menggema di Kaki Pegunungan Sukabumi di Tengah Ribuan Warga dan Harapan Akan Lestarinya Tradisi

    NUSANTARA NEWS
    Minggu, 05 Juli 2026, 20.06.00 WIB Last Updated 2026-07-05T13:11:07Z

    NUSANTARANEWS | SUKABUMI — Langit di Kampung Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, seolah memiliki suasana berbeda pada Minggu (5/7/2026). Sejak pagi, ribuan masyarakat dari berbagai daerah tumpah ruah memenuhi kawasan adat yang berada di kaki pegunungan itu. Langkah demi langkah masyarakat berdatangan, menyatu dalam sebuah peristiwa sakral yang telah diwariskan selama ratusan tahun: Seren Taun ke-447.


    Di antara dinginnya udara pegunungan, suara dogdog lojor mulai menggema, memecah keheningan alam. Alunan suling dan petikan kecapi mengiringi langkah masyarakat yang larut dalam suasana penuh makna. Wajah-wajah penuh harap, doa, dan rasa syukur terlihat menyatu dalam tradisi yang bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga menjadi pengikat hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.


    Seren Taun merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat adat atas hasil panen yang telah diberikan, sekaligus doa untuk menyambut musim tanam berikutnya agar diberikan keberkahan.


    Rangkaian prosesi adat berlangsung dengan penuh khidmat. Mulai dari tumbuk padi, saresehan bersama baris olot kasepuhan, dongdang, dogdog lojor, penampilan seni debus, rengkong, gondang buhun, tari tani, hingga pameran karya incu putu Kasepuhan menjadi gambaran bagaimana tradisi dan budaya masih terus hidup di tengah masyarakat.



    Namun, di antara seluruh prosesi yang digelar, ribuan pasang mata tertuju pada satu momen yang menjadi puncak sekaligus inti dari Seren Taun, yakni Ngampih Pare ka Leuit.


    Prosesi sakral tersebut dipimpin langsung oleh Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, dengan memasukkan secara simbolis ikatan padi hasil panen masyarakat ke Leuit Si Jimat.


    Suasana mendadak berubah hening. Kidung Pohaci mulai dilantunkan perlahan, berpadu dengan alunan suling dan kecapi yang mengalir lembut. Tidak sedikit masyarakat yang larut dalam suasana spiritual tersebut. Momen itu seakan membawa setiap orang kembali menelusuri jejak para leluhur.


    Padi dalam tradisi masyarakat adat bukan sekadar hasil pertanian, tetapi simbol kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan diwariskan.


    Hadir dalam kegiatan tersebut, Bupati Sukabumi H. Asep Japar menegaskan bahwa Seren Taun bukan hanya seremoni tahunan semata.


    Menurutnya, tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan hasil bumi, sekaligus doa agar kehidupan masyarakat ke depan terus diberikan keberkahan.


    "Tradisi ini sarat dengan nilai-nilai luhur. Di dalamnya ada gotong royong, pelestarian lingkungan, serta ketahanan pangan melalui budaya penyimpanan padi di leuit. Ini bukan hanya budaya, tetapi identitas yang harus terus dijaga," ujarnya.



    Asep Japar mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam Seren Taun sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk mewujudkan masyarakat yang maju, unggul, berbudaya, dan berkah tanpa meninggalkan akar budaya lokal.


    Menurutnya, konsep penyimpanan padi di leuit yang dijalankan masyarakat adat sejak dahulu merupakan bukti bahwa para leluhur telah mengajarkan pentingnya ketahanan pangan jauh sebelum konsep modern berkembang seperti saat ini.


    "Tradisi ini menjadi benteng pertahanan ketahanan pangan sekaligus identitas budaya masyarakat yang harus terus dijaga," tegasnya.


    Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan zaman yang terus berubah, Asep menilai kearifan masyarakat adat Kasepuhan Sinar Resmi dalam menjaga lingkungan dan mengelola pangan secara mandiri patut menjadi contoh.


    Pemerintah Kabupaten Sukabumi, lanjutnya, berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian adat dan budaya, termasuk pengembangan potensi kawasan adat serta peningkatan infrastruktur demi kesejahteraan masyarakat.


    Ia juga mengajak generasi muda atau incu putu agar tidak melupakan warisan yang telah ditinggalkan para leluhur.


    "Jangan sampai perkembangan zaman mengikis jati diri budaya kita. Warisan leluhur harus tetap hidup dan diwariskan," pesannya.



    Sementara itu, Sesepuh Adat Kasepuhan Sinar Resmi, Abah Asep Nugraha, mengatakan Seren Taun bukan sekadar tradisi yang diwariskan turun-temurun, tetapi juga menjadi ruang doa dan harapan bersama.


    "Acara ini bukan hanya warisan, tetapi juga doa bersama agar masa depan penuh keberkahan," katanya.


    Menurut Abah Asep, Seren Taun merupakan pondasi kehidupan masyarakat adat yang mengajarkan keselarasan antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual.


    Di tengah perkembangan teknologi dan modernisasi, ia berharap tradisi yang diwariskan para leluhur tetap terjaga dan terus hidup di hati generasi penerus.


    "Tradisi ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus sebagai identitas dan pegangan hidup masyarakat adat," pungkasnya.



    Dukungan terhadap pelestarian budaya adat juga datang dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, H. Ali Iskandar. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa keberadaan Kasepuhan Sinar Resmi memiliki nilai budaya dan potensi wisata yang luar biasa.


    Menurutnya, tradisi Seren Taun tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga memiliki daya tarik yang mampu memperkenalkan kekayaan budaya Kabupaten Sukabumi kepada masyarakat luas.


    Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa pelestarian budaya dan pengembangan kawasan adat harus berjalan beriringan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.



    Sementara itu, dukungan juga disampaikan Anggota DPR RI Dewi Asmara. Ia menilai tradisi yang masih terjaga hingga saat ini merupakan kekayaan bangsa yang memiliki nilai sangat tinggi.


    Menurutnya, keberadaan tiga kasepuhan di wilayah adat menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya sekaligus identitas masyarakat.


    Di bawah langit Kasepuhan Sinar Resmi, Seren Taun kembali berbicara. Bukan sekadar tentang masa lalu, melainkan tentang harapan yang terus dijaga agar tetap hidup hingga generasi-generasi berikutnya.


    (Ismet)

    Komentar

    Tampilkan

    BERITA TERBARU