NUSANTARANEWS | SUKABUMI – Upaya memperkuat sektor pariwisata dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Kabupaten Sukabumi mulai mendapatkan angin segar. Gagasan pengembangan Pasar Wisata Palabuhanratu yang diinisiasi Yayasan Bale Budaya Bambu mendapat sambutan positif dari Dinas Pariwisata dan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sukabumi.
Konsep Pasar Wisata tersebut diharapkan menjadi destinasi baru yang tidak hanya menawarkan daya tarik wisata pesisir, tetapi juga menghadirkan ruang promosi bagi produk unggulan daerah, mulai dari kuliner khas, kerajinan tangan, hingga pertunjukan seni dan budaya lokal.
Dukungan awal itu mengemuka dalam pertemuan yang berlangsung di Hotel Seaside Resort Bunga Ayu pada 28 Oktober 2026. Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, sejumlah pejabat bidang terkait, perwakilan Yayasan Bale Budaya Bambu, serta pengurus PHRI Kabupaten Sukabumi.
Dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Jenderal Yayasan Bale Budaya Bambu, Dudi Darma Bakti, memaparkan konsep pengembangan Pasar Wisata sebagai kawasan terpadu yang menghubungkan aktivitas pariwisata dengan potensi ekonomi kreatif masyarakat.
Gagasan tersebut mendapat respons positif dari Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi beserta jajaran, khususnya Bidang Destinasi Wisata dan Bidang Ekonomi Kreatif.
Empat Lokasi Alternatif Mulai Dibahas
Sebagai langkah awal pengembangan, sejumlah lokasi potensial di kawasan Palabuhanratu turut menjadi bahan pembahasan. Terdapat empat alternatif lokasi yang mengemuka, yakni Pantai Karang Hawu, Pantai Sukawayana, Pantai Istana Presiden, dan Pantai Gadobangkong.
Meski demikian, penentuan lokasi masih membutuhkan kajian lebih mendalam. Setiap kawasan memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri, sehingga diperlukan pembahasan lanjutan untuk memastikan kesesuaian lokasi dengan konsep pengembangan Pasar Wisata.
Aspek yang perlu diperhatikan meliputi pemanfaatan lahan, pengelolaan kawasan, ketersediaan infrastruktur, aksesibilitas, serta koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
Kajian tersebut menjadi bagian penting agar pengembangan Pasar Wisata dapat berjalan terencana dan berkelanjutan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar.
PHRI Siapkan Gagasan Souvenir Corner di Hotel
Dukungan terhadap rencana tersebut juga datang dari PHRI Kabupaten Sukabumi. Organisasi yang menaungi pelaku usaha perhotelan dan restoran itu menyambut baik inisiatif Pasar Wisata sebagai peluang untuk memperkuat keterhubungan antara sektor pariwisata dan pelaku usaha lokal.
Salah satu gagasan yang muncul dalam pertemuan tersebut adalah pembentukan Souvenir Corner di sejumlah hotel di kawasan Palabuhanratu dan sekitarnya.
Fasilitas ini direncanakan menjadi ruang pemasaran produk kerajinan dan cendera mata khas Sukabumi yang dapat diakses langsung oleh para tamu hotel.
Apabila direalisasikan, langkah tersebut berpotensi membuka saluran pemasaran baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus memperluas pengenalan produk lokal kepada wisatawan yang berkunjung.
Gagasan pembentukan Souvenir Corner selanjutnya akan menjadi salah satu agenda yang ditindaklanjuti PHRI Kabupaten Sukabumi.
Bukan Sekadar Pasar, tetapi Ruang Penggerak Ekonomi Kreatif
Yayasan Bale Budaya Bambu menilai pengembangan Pasar Wisata Palabuhanratu perlu melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, pelaku industri pariwisata, komunitas seni dan budaya, UMKM, hingga masyarakat setempat.
Konsep yang ditawarkan tidak terbatas pada aktivitas jual beli. Pasar Wisata dirancang sebagai ruang pengalaman wisata yang memungkinkan pengunjung menikmati kuliner khas Sukabumi, mengenal kerajinan lokal, menyaksikan pertunjukan seni budaya, serta merasakan suasana khas kawasan pesisir Palabuhanratu.
Melalui konsep tersebut, potensi pariwisata diharapkan dapat terhubung langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan demikian, manfaat kunjungan wisatawan tidak hanya dirasakan oleh sektor perhotelan dan usaha pariwisata, tetapi juga oleh para pelaku UMKM, perajin, seniman, dan komunitas budaya.
Dukungan awal dari Dinas Pariwisata dan PHRI menjadi modal penting untuk melanjutkan pembahasan menuju tahap yang lebih konkret.
Tahapan berikutnya mencakup pendalaman lokasi alternatif, identifikasi kebutuhan pembangunan, penyusunan konsep pengelolaan, penjajakan kerja sama, hingga pembahasan kemungkinan sumber pendanaan.
Jika dikembangkan secara matang dan berkelanjutan, Pasar Wisata Palabuhanratu diharapkan dapat menjadi destinasi alternatif yang memperkaya pilihan wisata di Kabupaten Sukabumi.
Selain memperkuat daya tarik daerah, inisiatif tersebut juga diharapkan mampu memperluas akses pemasaran produk lokal, menjaga keberlangsungan seni dan budaya, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Yayasan Bale Budaya Bambu berharap dukungan berbagai pihak dapat terus berlanjut sehingga gagasan Pasar Wisata Palabuhanratu dapat diwujudkan secara bertahap melalui kolaborasi yang terarah dan berkesinambungan.
(Ismet)


