NUSANTARANEWS | SUMEDANG – Jika berbicara tentang kemegahan budaya Jawa Barat, tak lengkap rasanya tanpa menyebut Kuda Renggong. Kesenian yang menampilkan keharmonisan antara ketangkasan hewan dan irama musik ini bukan sekadar hiburan rakyat, melainkan simbol identitas dan kebanggaan masyarakat Kabupaten Sumedang yang telah melintasi zaman.
Akar Sejarah: Buah Kreativitas Sang Maestro dari Cikurubuk
Sejarah mencatat bahwa seni Kuda Renggong lahir dari tangan dingin seorang seniman lokal bernama Aki Sipan. Kesenian ini pertama kali muncul di Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, pada awal abad ke-20, tepatnya sekitar tahun 1910.
Aki Sipan dengan ketelatenannya berhasil menciptakan sebuah terobosan unik dalam dunia seni pertunjukan. Beliau melatih kuda-kuda pilihannya agar mampu bergerak lincah dan berirama. Dari sinilah nama "Renggong" berasal, yang dalam bahasa Sunda merupakan metatesis dari kata kamereenggongan, yang berarti keterampilan atau gerak estetik yang menyerupai tarian.
Harmoni Gerak dan Irama
Kuda Renggong adalah bukti nyata kecerdasan manusia dalam menjalin kedekatan dengan alam. Dalam setiap pertunjukannya, kuda-kuda yang telah terlatih ini akan menari mengikuti dentuman musik pengiring yang enerjik. Gerakan kaki yang melangkah mantap, gelengan kepala yang mengikuti ritme, hingga atraksi berdiri di atas dua kaki belakang, menciptakan tontonan yang memukau sekaligus penuh nilai filosofis tentang kedisiplinan dan keselarasan.
Dari Tradisi Lokal Menuju Warisan Nasional
Seiring berjalannya waktu, Kuda Renggong berkembang dari sekadar pertunjukan di desa kecil menjadi sebuah fenomena budaya yang diakui secara luas. Kesenian ini sering kali menjadi bagian tak terpisahkan dalam upacara adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga acara syukuran khitanan (Walimatul Khitan).
Berkat keunikan dan nilai sejarahnya yang mendalam, kini Kuda Renggong telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional. Pengakuan ini menegaskan bahwa karya yang dimulai oleh Aki Sipan lebih dari seabad lalu adalah harta karun budaya yang wajib dijaga kelestariannya oleh generasi mendatang.
Menjaga Warisan, Merawat Identitas
Hingga saat ini, setiap kali dentuman musik pengiring Kuda Renggong terdengar di bumi Sumedang, masyarakat akan selalu teringat pada semangat kreativitas dari Desa Cikurubuk. Kuda Renggong bukan hanya tentang tarian hewan, tapi tentang semangat orang Sunda yang mampu mengubah kesederhanaan menjadi sebuah mahakarya yang mendunia.
(Endi Kusnadi)


